Ancaman bagi Pasar Properti Akibat Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Suku Bunga

by -26 Views
Ancaman bagi Pasar Properti Akibat Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Suku Bunga

Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Joko Suranto buka suara mengenai pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan suku bunga tinggi, serta dampaknya bagi bisnis perumahan dan properti di Indonesia.

Sebagai informasi, saat ini nilai rupiah masih tertekan di atas Rp16.000 per dolar AS. Bahkan sempat mencapai di atas Rp16.400 per dolar AS.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,15% di angka Rp16.365 per dolar AS pada hari ini, Rabu (3/7/2024). Kenaikan ini berbeda dengan pelemahan yang terjadi kemarin (2/7/2024) sebesar 0,43%.

Lalu, bagaimana efeknya terhadap bisnis properti di Indonesia?

“Kaitan langsung dengan industri properti sebenarnya hanya terjadi ketika tekanan dolar menyebabkan kenaikan harga BBM, karena ini terkait dengan biaya logistik,” ujar Joko dalam Propertinomic CNBC Indonesia, Rabu (3/7/2024).

“Impak kedua terhadap industri properti adalah ketika suku bunga naik, karena adanya tekanan capital outflow,” tambahnya.

Meskipun demikian, Joko menyatakan bahwa saat ini ada program Pajak Pertambahan Nilai atas Rumah Tapak dan Satuan Rumah Susun yang Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), dimana kebijakan ini menstabilkan harga rumah agar tidak naik.

“Dalam posisi ini, kita harus lebih efisien, mengurangi biaya yang tidak perlu, mengurangi laba. Kami juga harus mematuhi kebijakan PPN DTP ini dengan tidak menaikkan harga, fokus kami di situ. Karena jika industri ini berjalan, ekonomi akan tumbuh, 185 industri terkait ini akan berkembang, penyerapan tenaga kerja, dan uang beredar hingga memberikan dampak positif bagi industri itu sendiri,” ujar Joko.

Dia menambahkan bahwa jika era suku bunga tinggi berakhir pada tahun 2024 ini, hal tersebut akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan sektor properti.

“Pasti akan sejalan. Kita tahu dua faktor utama KPR adalah suku bunga dan pertumbuhan ekonomi atau daya beli. Ketika pertumbuhan ekonomi baik, suku bunga pasti turun dan daya beli akan naik,” katanya.

“Jika terjadi penurunan suku bunga, itu adalah hal yang positif, sangat diharapkan. Insyaallah juga akan mendorong sektor properti menjadi lebih positif, memberikan akses yang lebih luas bagi yang belum memiliki rumah. Hal ini akan menggerakkan 185 industri yang menjadi tulang punggung industri perumahan ini,” pungkas Joko.

Sumber: [CNBC Indonesia](https://cnbcindonesia.com/news/20240703190520-8-551579/video-banyak-tantangan-punya-rumah-layak-di-ri-siapa-punya-solusi)