Tewas 24.000 Korban dalam Serangan Israel, Xi Jinping Mengeluarkan Titah Baru

by -47 Views
Tewas 24.000 Korban dalam Serangan Israel, Xi Jinping Mengeluarkan Titah Baru

Serangan balasan Israel terhadap kelompok Hamas Palestina di Jalur Gaza telah memasuki hari ke-100. Kekerasan tidak hanya terjadi di Gaza, tetapi juga merembet ke Tepi Barat (West Bank), perbatasan Israel-Lebanon, dan sejumlah wilayah lain di Timur Tengah seperti perairan penting Laut Merah.

Konflik tersebut telah menciptakan bencana kemanusiaan bagi 2,4 juta orang di Gaza yang dikuasai Hamas dan membuat sebagian besar wilayah pesisir menjadi puing-puing. Berikut 5 perkembangan terkini dihimpun dari berbagai sumber pada Senin (15/1/2024).

Jumlah Korban Tewas Tembus 24 Ribu
Laporan Anadolu Agency (AA) menyebutkan bahwa sebanyak 24.100 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel, sementara sekitar 60.834 orang terluka. Pasukan pendudukan Israel pada 12 pembantaian terhadap keluarga di Jalur Gaza, mengakibatkan 132 korban jiwa dan 252 luka-luka selama 24 jam terakhir. Menurut PBB, 85% penduduk Gaza telah menjadi pengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara 60% infrastruktur di wilayah tersebut rusak atau hancur. Data Al Jazeera mencatat bahwa hingga 12 Januari, setidaknya 93 jurnalis tewas sejak perang Israel-Gaza dimulai pada 7 Oktober.

Babak Baru Negosiasi Pembebasan Sandera
Perundingan untuk mendapatkan pembebasan sandera Israel yang ditahan di Gaza oleh Hamas telah memasuki babak baru. Putaran baru ini menandakan berakhirnya kebuntuan selama berbulan-bulan dan meningkatkan harapan di kalangan kerabat para sandera. Melansir Guardian, rincian baru muncul dalam beberapa hari terakhir mengenai kesepakatan yang memungkinkan obat-obatan, seperti obat resep penting, untuk menjangkau para sandera, bersamaan dengan peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Pada Jumat, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengkonfirmasi perjanjian tersebut, yang akan mulai berlaku minggu ini. Para perunding saat ini sedang mendiskusikan bagaimana cara mengirimkan obat-obatan dan bantuan kepada Israel dan Hamas.

Titah Baru Xi Jinping
China menyerukan konferensi perdamaian berskala besar dan otoritatif mengenai perang yang masih berlangsung di Gaza. Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri China Wang Yi saat pertemuan di Mesir pada akhir pekan. China menginginkan formulasi jadwal dan peta jalan yang spesifik untuk mendukung segera dimulainya kembali Israel dan Palestina. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China menekankan perlunya peta jalan yang mengikat dan menyambut baik peran aktif PBB dalam penyelesaian konflik di wilayah tersebut.

Konflik Melebar ke Wilayah Lain
Ketika Israel membombardir Gaza, Israel juga meningkatkan serangan dan penangkapannya di Tepi Barat yang diduduki. Ketegangan juga tinggi dengan negara-negara tetangga. Kelompok Hizbullah Lebanon dan tentara Israel hampir setiap hari terlibat baku tembak di sepanjang perbatasan utara Israel dengan Lebanon. Sementara itu, pemberontak Houthi mulai menargetkan kapal-kapal internasional yang terkait dengan Israel di Laut Merah, salah satu rute terpenting bagi perdagangan global. Menanggapi agresi Houthi, Amerika Serikat dan Inggris pun melancarkan serangan besar-besaran di wilayah Yaman, dan Houthi dilaporkan menyerbu kapal perang AS di Laut Merah dengan drone.

Presiden Israel Dicemooh Saat Minta Bantuan
Tekanan semakin meningkat terhadap para pejabat Israel untuk membawa kembali 136 orang yang diyakini masih ditawan di Gaza. Presiden Isaac Herzog pun dicemooh dalam sebuah acara besar di Tel Aviv saat meminta bantuan terkait hal tersebut. Dia berusaha menarik simpati internasional di televisi nasional, namun penonton berteriak, “Sekarang! Sekarang!” dan mencemooh pidatonya.

Israel Mengabaikan Semua Perintah AS
Amerika terus meminta Israel mengurangi serangan mematikan terhadap warga sipil di Gaza, namun kepemimpinan Israel telah memutuskan untuk “melanjutkan kampanye intensitas tinggi sepanjang bulan Januari.” Ada saran dari AS untuk memotong bantuan militer tahunan senilai US$3,8 miliar sebagai langkah tekanan, yang disampaikan oleh Wakil presiden eksekutif di Pusat Kebijakan Internasional, Matt Duss.