Setelah kerajaan macan diusik, kini gajah Sumatera dimutilasi

Posted by on July 16, 2013

MERDEKA.COM. Setelah beberapa waktu lalu para pemburu mengusik harimau Sumatera, kini giliran gajah Sumatera yang diusik. Kemarin, beredar foto tragis bangkai gajah Sumatera mati tanpa kepala karena dimutilasi. Biadab memang. Binatang berbelalai endemik Indonesia yang populasinya kian menyusut, itu dikabarkan mati karena diburu, kemudian dipotong kepalanya untuk diambil gadingnya.

Di wilayah teritorial satwa lindung Sumatera, nasib gajah ini serupa dengan satwa lindung lainya, harimau Sumatera yang populasinya kini juga kian menurun. Penyebab penurunan populasi kedua jenis binatang ini ada beberapa faktor yang bisa diidentifikasi, sama-sama diburu, dibunuh dan sama-sama tak bisa berkembang karena penyempitan wilayah hutan.

Menurut Sunarto, Tiger and Elephant Specialist dari World Wildlife Fund (WWF-Indonesia), bila perburuan dibiarkan, harimau dan gajah Sumatera bisa punah. “Kalau jumlah pastinya kami memang tidak tahu, paling data yang ada hanya perkiraan jumlah saja. Tapi kami berani memastikan, jumlah mereka (gajah dan harimau) itu menurun,” kata dia kepada merdeka.com, Senin (15/7).

Untuk perkiraan jumlah sisa gajah Sumatera, data terakhir yang tercatat tahun 1985, populasinya mencapai 2.400 hingga 4.800. Sementara data terakhir belum ada. Namun catatan terakhir keberadaan gajah per wilayah provinsi di Sumatera sempat ada. Di Provinsi Riau misalnya, populasi gajah pada 1985 diperkirakan 1.600 ekor, dan jauh menurun pada 2008 yang tersisa 350 ekor.

Di Provinsi Sumatera Barat kondisi gajah malah lebih tragis lagi, karena dinyatakan punah pada 2008 lalu. Berikutnya di Provinsi Lampung, di deretan hutan pegunungan Bukit Barisan Selatan, diperkirakan jumlah terakhir gajah liar hanya sisa 498 ekor. Sedangkan di Taman Nasional Wai Kambas, Lampung, jumlahnya hanya sisa 180 ekor.

“Data kami pada 2007, dalam kurun 25 tahun populasi satu generasi gajah Sumatera telah berkurang hingga 80 persen. Gajah yang biasanya hidup berkelompok di kantorng-kantong wilayah tertentu, sekarang sudah tidak ditemukan lagi populasinya,” tuturnya.

Pada 2012 lalu, WWF sempat mencatat 30 kasus perburuan gajah di kawasan hutan Aceh, masih di kawasan hutan Aceh Tengah–lokasi penemuan bangkai gajah jantan yang mati dengan kepala dimutilasi seperti dalam foto yang beredar kemarin. Menurut Sunarto, ada kemiripan dalam kasus yang terjadi pada 2012 lalu dengan kasus penemuan bangkai gajah kemarin.

Bangkai gajah sama-sama jantan, ditemukan mati tanpa gading. Para pemburu gajah yang sadis. Rata-rata mereka profesional, makanya jarang tertangkap. Cara mereka mendapatkan gading dengan membunuh gajah jantan, kemudian mengambil gadingnya. “Kalau yang buru-buru lebih sadis lagi, mereka memutilasi kepala gajah, lalu membawanya pulang. Di rumah, baru gadingnya diambil,” terangnya.

Nah, kasus yang terjadi di Aceh Tengah, itu mengindikasikan bahwa pemburu ingin mendapatkan gading dengan cepat. Mereka takut perbuatanya ketahuan, sehingga mereka langsung saja memenggal kepala gajah lalu dibawa pulang. “Gading gajah ini harganya memang mahal. Kami berharap pemerintah lebih serius lagi menyelamatkan gajah Sumatera. Kami harap dibentuk lah inteligen gajah,” ujarnya.

Gajah Sumatera, adalah salah satu dari sub-spesies gajah Asia. Ironisnya, semua gajah Asia digolongkan sebagai satwa terancam punah (endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Gajah Sumatera menghadapi ancaman serius berupa aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, pembunuhan akibat konflik dan perburuan.

Kelangsungan hidup populasi gajah ini dalam jangka panjang terancam oleh cepatnya konversi hutan menjadi perkebunan dan tanaman komersial. Gajah Sumatera merupakan spesies payung bagi habitatnya dan mewakili keragaman hayati di dalam ekosistem yang kompleks makhluk hidup di kawasanya.

Artinya, mempertahankan satwa besar ini akan membantu mempertahankan keragaman hayati dan integritas ekologi dalam ekosistemnya. Sederhananya, dalam sehari gajah mengonsumsi sekitar 150 kg makanan dan 180 liter air. Mereka membutuhkan areal jelajah hingga 20 kilometer persegi per hari. Biji tanaman dalam kotoran mamalia besar ini akan tersebar ke seluruh areal hutan yang dilewati dan membantu proses regenerasi hutan alam.

Sehingga, akhirnya gajah ikut menyelamatkan berbagai spesies kecil lain; tumbuhan, binatang, termasuk anda para pembaca, dan seluruh penduduk Bumi yang menikmati oksigen alam. Lalu sekarang, akankah anda biarkan nasib gajah Sumatera punah? Tentu tidak, bukan?

Sumber: Merdeka.com

Sumber: – http://id.berita.yahoo.com/

Setelah kerajaan macan diusik, kini gajah Sumatera dimutilasi

Setelah Kerajaan Macan Diusik, Kini Gajah Sumatera Dimutilasi

Sejarah silat lintau ppsslm, Sejarah silat minangkabau by kunjungi sumatera barat u srijeda, septembar 23, 2009 u 1:16 prije podne sejarah silat minangkabau. kajian sejarah silek memang rumit. Simbol – silmbol illuminati di kerajaan arab saudi, Sangat mengejutkan saat kerajaan arab saudi yang notabennya adalah kiblat dari seluruh umat muslim di dunia, memiliki unsur illuminati dan freemason di. “orang pendek” sumatera: manusia atau kera? | toelank, Heboh video marshanda lepas hijab di dunia maya; mau rp 11 m? ikuti sayembara orang terkaya di dubai ini; camat ganteng ini hebohkan media sosial .

Rumusbeta's blog | power in your brand, Power in your brand 10. alligator. secara teknis, buaya memang tidak memiliki pita suara, tapi satu hal yang mengejutkan adalah, hal ini tidak mencegah mereka. Tempat-tempat paling berhantu dan angker di dunia, Silahkan tulis alamat email anda pada form di bawah ini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu anda akan mendapat kiriman artikel aneh dan unik.

Referensi:
  • sejarahsilatlintauppsslm.wordpress.com
  • toelank.wordpress.com
  • toelank.wordpress.com
Rating : 4.5 based on 17 Customer Reviews

Tags: , , , , , , ,

Category: Berita Terpopuler

About the Author ()

Comments are closed.

You might also likeclose